Hujan, deras sekali mengguyur jakarta. Hujan sore itu hampir-hampir badai. Beginilah cuaca jakarta beberapa tahun ini, panas menyengat di musim kemarau lalu hujan deras yang tak berhenti-henti di musim hujan. Dan di musim hujan ini, orang-orang selalu ingin pulang lebih cepat, takut terjebak banjir di kegelapan. Hujan deras seperti ini, tidak ada yang tahu kapan ia berhenti. Bisa-bisa semakin malam malah semakin macet. Apalagi hari ini hari jum’at, semua orang ingin bergegas pulang. Semua orang ingin lari dari penatnya kerja selama 5 hari berturut-turut. Tidak peduli hujan yang semakin mencekam dan petir yang menyambar-nyambar. Semua orang berlomba-lomba cepat pulang.

Hari itu busway penuh sesak, seperti biasa jam 5 sore, arah menuju blok m selalu padat, apalagi kalau hujan deras seperti ini, jalanan jadi macet total karena banjir. Di dalam busway, hampir-hampir tidak bisa bergerak, orang-orang berhimpitan, copet pun mulai merajalela. Bau keringat dan bau parfum menyatu dengan berbagai macam aroma. Begitu sampai terminal, penumpang keluar berhamburan. Semua langsung pergi terburu-buru. Busway pun melapan dan akhirnya hampir kosong. Hingga tinggal satu penumpang yang duduk menunduk lemas memeluk tas ranselnya. Wajahnya tertutup rambut, pakaian kerjanya berwarna coklat lusuh, ia terlihat kelelahan bekerja. Sudah 5 menit busway sampai di terminal namun ia tak kunjung bergerak dari duduknya. Sang sopir busway menyuruhnya turun namun ia tak bergeming. Sang sopir pikir penumpang itu sedang tidur lalu digoyangkanlah badannya. Alangkah kagetnya ia begitu melihat sang penumpang rubuh terkulai di lantai bus dengan perut bersimbah darah. Aroma kenanga merebak menimbulkan kengerian yang mencekam. Seseorang telah menusuknya dengan pisau cutter sampai mati. Dengan demikian sudah tiga orang mati ditusuk di busway dalam 2 bulan ini.

Bagaimanakah nasib orang mati terbunuh di jakarta? Sebentar saja masuk ke pos kota atau buser lalu kurang dari sebulan sudah lupa. Dianggap biasa saja, berlalu begitu saja. Padahal ada pembunuh sedang berkeliaran entah dimana dan mungkin saja mengincar nyawa anda. Mungkin begitulah orang jakarta atau mungkin begitulah orang indonesia. begitu banyak kasus masuk koran, banyak yang menghebohkan, banyak yang mencekam. Tapi mungkin dua atau tiga bulan, saat orang-orang tidak membicarakannya, seakan-akan hilang tak berbekas, menguap di udara. Ataukah kejahatan sudah biasa di negeri ini sehingga tidak ada kejahatan yang luar biasa? Adakah kejahatan yang membuat orang ngeri, tidak bisa melupakan siang dan malam? Mungkin ada kejahatan semacam itu, tapi kasus pembantaian besar-besaran pun hilang tak berbekas di meja pengadilan jadi buat apa toh mengingat satu atau tiga orang yang cuma ditusuk di busway. Polisi berpikir keras untuk cepat-cepat menangkap, katanya biar masyarakat tidak was-was padahal supaya bisa pulang cepat dan tidur pulas. Tapi bukankah itu manusiawi? Siapa yang tidak ingin pulang kerja cepat-cepat? Pasti hanya orang gila pecandu kerja atau suami yang takut bertemu istrinya karena istrinya galak atau mungkin karena istrinya suka merengek minta duit. Pak polisi berpikir kalau dia sudah kaya tentu dia tidak harus bekerja setiap hari, dimarahin atasan, bersusah payah di terik panas atau deras hujan jakarta. Dia berangan kalau sudah kaya nanti ingin beli jaguar atau mercedes benz. Lalu jalan-jalan di eropa, jangan lupa naik haji, karena bagaimanapun dia masih percaya tuhan, surga dan neraka. Jelek-jelek begini, dia juga ingin masuk surga. Tapi khayalan bisa menunggu, sekarang dia harus berpikir keras bagaimana caranya jadi kaya. Dan sebelum itu bagaimana caranya menangkap pembunuh ini secepat mungkin.

Biasanya untuk kasus seperti ini, polisi cari kambing hitam orang yang dendam atau iri atau pencopet. Tapi kalau dendam atau iri, kenapa sampai 3 orang? Ketiga orang itu tidak ada kaitannya pula. Seperti asal tusuk orang. Kalu pencopet, kenapa harus membunuh? Kenapa tidak ada barang yang dicopet. Yang lebih aneh lagi, mayat ketiga korban tercium bau bunga kenanga. Tidak ada sidik jari dari ketiga pisau cutter yang ditusukkan pada ulu hati korban. Mungkin korban sebenarnya ingin melawan atau minta tolong tapi dengan kondisi busway yang penuh sesak, mereka tidak bisa dan akhirnya mati kehabisan darah. Polisi sudah mencoba menyamar pada hari jum’at yang akhir-akhir ini selalu hujan deras, tapi tidak menemukan orang yang mencurigakan selain beberapa pencopet yang sudah ditangkap. Petugas busway dan penumpang langganan sudah dimintai keterangan tapi mereka juga tidak merasa ada sesuatu yang janggal saat pembunuhan. Kesal karena sudah 2 bulan tak ada hasil malah korban sepertinya akan terus bertambah, polisi mulai tertekan. Seandainya bisa asal menangkap orang tapi kalau nanti ada yang terbunuh lagi, bakal ketahuan mereka berbohong. Mereka sudah bosan bergadang dengan kopi dan rokok, ingin cepat pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga. Karena bingung setengah mati, akhirnya pak polisi dan teman-temannya sepakat menanyakan pada orang pintar dari sumedang. Kebetulan dia banyak membantu mencari penjahat dalam kasus-kasus yang lain. Selain pernah membantu menangkap gembong teroris, buronan perampok bank, paranormal ini juga pintar mencari anak hilang.

Malam jumat, mereka menemui paranormal itu di rumahnya. Sekilas penampakannya seperti ibu rumah tangga gemuk biasa namun sebenarnya dia memiliki penglihatan gaib yang hebat. Tak banyak yang tahu kalau dia adalah paranormal dengan tarif jutaan rupiah. Orang-orang mengenalnya dari bisik-bisik tetangga, dia tak pernah mempromosikan dirinya. Spesifikasinya adalah meramal masa depan dan mencari orang, pelanggannya kebanyakan adalah ibu-ibu yang menyelidiki perselingkuhan suaminya. Hobinya makan bakpau dan bermain mahjong. Suaminya adalah bandar judi, kadang-kadang dia juga suka main judi. Para polisi yang suka minta tolong padanyalah yang ‘menjaga’ tempat judinya. Suami-istri itu tidak punya anak tapi mereka bahagia. Mereka memang tidak suka anak-anak, buat mereka hanya bikin repot, mereka hanya senang berhura-hura.

Kasus pembunuhan busway juga menyita perhatian ibu paranormal tersebut. Dia merasa ada yang janggal dengan kasus itu. Karena tiap terjadi pembunuhan selalu hujan deras pada hari jumat, selain itu yang terbunuh selalu laki-laki berkumis. Belum lagi bau kenanga yang tertinggal pada mayat korban. Tentu saja soal wangi kenanga itu tidak secara resmi dipublikasikan, namun dia tau dari cerita-cerita pelanggannya yang suka naik busway. Wanita itu merasa ada yang mistis dengan kasus pembunuhan ini. seperti semacam ritual pikirnya. Waktu para polisi meminta bantuannya, dia sangat senang, mukanya berseri-seri seperti anak babi. Dia sudah bosan dimintai tolong menerawang kegiatan suami orang, kasus ini membuat suntuk pekerjaannya hilang.

“Sini mana senjata pembunuhnya?” kata ibu itu.
“Ini bu”, pak polisi menyerahkan pisau cutter yang berbau amis darah yang tercampur wangi kenanga.
Tiba-tiba bulu kuduk ibu itu bergeming, ia merasakan suasana mencekam luar biasa.
“dendam…..dendam….” ujar ibu itu
“wah kenapa bu tiba-tiba ketakutan begitu?” pak polisi bertanya karena heran, tidak biasanya sang ibu seperti itu.
Walau takut, ibu itu mencoba menerawang. Terlihat suasana busway sore hari, lalu penumpang yang berdesakan di busway.
“saya di busway…langit hitam karena hujan…” ujar ibu itu. Para polisi mendengarkan dengan seksama, ketakutan ibu itu membuat mereka juga agak sedikit merasa ngeri.
“busway masih lenggang, saya duduk lalu makin lama makin penuh dengan penumpang…pria itu…akhirnya ketemu…saya tusuk dia!!!!!!! saya tusuk!!!!!! saya tusuk!!!!! gimana rasanya huh?! gak bisa minta tolong???!!! kasihan deh lo, hahahahahahahha… ayo coba minta tolong!!! hhahahahaha…”
lalu ibu itu tertawa tak berhenti-henti seperti sedang kesurupan, lama sekali dia tertawa tak berhenti-henti, samapai berguling-guling di lantai. Para polisi jadi gelisah melihat tingkah ibu itu.
“Ibu, kenapa bu, jangan tertawa terus dong bu”, kata mereka cemas.
Setelah beberapa lama, tawanya mulai berhenti, dia terkekeh-kekeh lalu ambruk jatuh di lantai.
Pak polisi pikir sang ibu pingsan, jadi dia ambil minyak angin lalu diusapkannya ke hidung sang ibu.
Namun dia merasa ada yang janggal, sang ibu tidak bernafas lagi. Badannya menjadi pucat dan dingin. Karena panik, mereka membawa sang ibu ke rumah sakit. “Jangan-jangan stroke lagi, habis dia gemuk sekali.” pikir pak polisi yang berharap hal itu tidak benar. “Bagaimana bisa begitu, gimana nasib kita tanpa ibu ini, makin buntu saja.”
Namun nasib berkata lain, sang ibu telah berpulang ke penciptanya. Ia terkena serangan jantung mendadak. “Mampuslah kita” pikir para polisi. Mereka pun pulang dengan tangan hampa.

Pak polisi pusing bukan kepalang, malam itu setelah dari rumah sakit tempat sang ibu paranormal meninggal, dia jadi sulit tidur. Mungkin benar ini bukan kasus sembarangan. Seorang paranormal mati setelah menerawangnya. Setiap malam dia memikirkan kasus itu gelisah. Pagi-pagi selalu terbangun dengan sekujur keringat di tubuhnya. Dia berpikir untuk melihat lagi apa hubungan ketiga orang yang dibunuh itu. “Dendam ya? mungkin sebaiknya kutanya lagi keluarga dan kerabat korban, mungkin memang mereka ada hubungannya, selain kumis tentunya.” Namun berkali-kali dia mencari tetap menemui jalan buntu. Dia memutuskan untuk menyamar lagi tapi dia jadi takut sendiri karena tentu aja selain karena dia berkumis keliatannya pembunuh ini tidak segan-segan menusuk siapa saja yang dia mau. Istrinya kesal sekali melihat kelakuan suaminya akhir-akhir ini, sering merenung, merokok, begadang, tidak makan, kadang tidak mandi dan badannya jadi bau sekali. “Jorok sekali dia, ini bikin contoh yang buruk buat anak-anak.”

Sudah 6 bulan berlalu, musim hujan sudah beralih jadi kemarau. Kasus itu belum juga terpecahkan. Pak polisi merasa lega, setidaknya kalau tidak hujan kan, pembunuh tidak beraksi.Dia juga sudah menemukan paranormal baru. Kali ini dari gunung kidul, orangnya kurus sekali dan selalu memakai baju hitam dan kacamata hitam. Orang-orang mengira ia buta. Padahal sebenarnya dia cuma ingin terlihat keren. Orang-orang pun mulai melupakan kasus itu. “Mungkin sebaiknya saya memikirkan kasus lain, yang lebih menguntungkan”, pikir pak polisi.Apalagi sebentar lagi bulan puasa, pengeluaran pasti membengkak.

Hari ini agak aneh, turun hujan cukup deras di musim kemarau. Padahal tadi siang panasnya terik sekali hampir-hampir mengelupasi kulit orang-orang. Pak polisi senang karena dia sudah bete berat dengan terik yang menyengat. Hari ini hari jum’at, dia ingin cepat pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, dia membeli pizza hut untuk anak-anaknya. “Mereka pasti senang”, pikirnya. Karena motornya mogok dan mobil dinas sedang dipakai temannya, dia memutuskan pulang naik bus saja. “Naik busway saja ah, biar cepat”, tanpa ragu pak polisi naik busway seakan lupa dengan kasus yang membuatnya ngeri setengah mati 6 bulan yang lalu. Di busway, dia langsung dapat tempat duduk di sebelah anak berseragam SMA yang sangat cantik. Tubuhnya semampai, rambutnya pajang hitam mengkilat, kulitnya mulus seperti artis. “Wah mimpi apa saya, bisa duduk sebelah cewek cantik begini,” gumamnya. “Ih dasar bapak-bapak genit” kata gadis itu berganti tempat duduk dengan seorang mas-mas yang bisa dibilang mungkin mahasiswa tapi mungkin juga pegawai kecil atau tukang antar barang. “Yah ada pacarnya ya,” ujar pak polisi.

Mas-mas itu memakai jaket cokelat tua, wajahnya tertutup topi, dia memeluk ransel yang besar, rambutnya agak gondrong, ikal bergelombang. Dari tadi wajahnya tertunduk, sebentar tangannya mengegenggam tangan gadis SMA itu. “Udah dong sayang, kok ngambek terus sih, dari tadi diem mulu”, rengek gadis SMA itu. Gadis SMA itu mungkin karena kesal dengan sikap diam kekasihnya, sibuk mengutak-ngatik handphonenya. Mungkin sedang chatting atau main internet. “Huh dasar anak muda jaman sekarang, kalo gak pacaran, main internet,” gumam pak polisi. Busway makin lama makin penuh dan sesak. Akhirnya sampai halte BEJ, orang-orang hampir tak bisa bergerak. “Sayang, kita turun yuk”, ujar gadis SMA itu pada kekasihnya. “Kamu duluan, aku di belakang kamu”, ujar kekasihnya. Lalu pemuda itu pun beranjak berdiri tapi sebelum dia berdiri, dia mengeluarkan pisau cutter dari ranselnya dengan sapu tangan dan menusuk ulu hati pak polisi. Sekilas tercium bau kenanga, bau rambut gadis SMA itu. “Oh begitu rupanya” pikir pak polisi, kembali teringat kasus busway 6 bulan yang lalu. Pak polisi berusaha melawan tapi pemuda itu terus mendorongnya. “Sayang, ayo dong cepat nanti pintunya keburu ketutup,” ujar gadis itu. Sang pemuda pun berlalu bersama kekasihnya. Masuk lagi penumpang baru, busway penuh sesak hampir-hampir tidak bisa bergerak.

Begitu sampai terminal, penumpang keluar berhamburan. Semua langsung pergi terburu-buru. Busway pun melapang dan akhirnya hampir kosong. Hingga tinggal satu penumpang yang duduk menunduk lemas memeluk sekardus pizza. Wajahnya tertutup rambut, pakaian kerjanya berwarna putih lusuh, ia terlihat kelelahan bekerja. Sudah 5 menit busway sampai di terminal namun ia tak kunjung bergerak dari duduknya. Sang sopir busway menyuruhnya turun namun ia tak bergeming. Sang sopir pikir penumpang itu sedang tidur lalu digoyangkanlah badannya. Alangkah kagetnya ia begitu melihat sang penumpang rubuh terkulai di lantai bus dengan perut bersimbah darah. Aroma kenanga tercium bersama aroma pizza dari tubuhnya. Seseorang telah menusuknya dengan pisau cutter sampai mati. Dengan demikian sudah empat orang mati ditusuk di busway dalam tahun ini.

TAMAT

Jakarta, 9 Oktober 2009

Satu pemikiran pada “Pembunuhan di busway (Oleh: Nany Ariany)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s