Adayang lain hari ini. Hari ini sebenarnya tidak begitu berbeda dengan hari-hari yang sebelumnya. Belakangan ini memang sering hujan. Tapi kok ada yang terasa aneh ya. Hari ini Papa terlambat pulang lagi. Sudah jam 5 padahal biasanya Papa pulang jam 4. Papa adalah guru les piano. Beliau mengajar dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Jarak tempat les dengan rumah paling lama 1 jam. Mungkin Papa telat karena macet. Apalagi hari ini hujan lebat. Biasanya kan kalau hujan lebat, jalanan jadi macet.

Aku tak mengambil pusing. Aku mengambil sepoci teh manis dari lemari es lalu memakan kue bolu sisa panggangannya yang gosong. Maklum aku baru belajar bikin kue sambil mengisi liburan sekolah ini. Lalu aku menyalakan TV. Oh ternyata ada Sailor Moon. Rupanya sudah setengah lima

Langit makin merah dengan indahnya walaupun awan mendung. Hujan terus melaju deras. Tak terasa sudah jam 5 lebih. Oh sebaiknya aku mandi. Tapi aku mengurungkan niat. Hujan-hujan begini gak usah mandi sore ah, lagian juga gak keluar rumah. Aku memang paling malas mandi sore kalau tidak keluar rumah tapi akhirnya mandi juga karena bosan. Untung saja baru dapat sample shampo baru wangi anggur dari teman yang sedang promosi sehingga tidak bete-bete amat.

Makin sore bukannya makin reda, hujan makin lebat. Langitpun sudah mulai gelap. Wah sudah jam segini kok Papa belum pulang-pulang juga. Aku jadi khawatir. Apalagi aku di rumah sendirian dan sebentar lagi magrib. Aku takut sendirian. Selain itu aku juga takut kalau terjadi apa-apa dengan Papa. Waduh, mesti gimana ya? Daripada mikir yang macam-macam lebih baik sholat saja dulu. Bunyi adzan magrib sudah mengalun sayup-sayup di tengah gemuruh suara hujan.

Sudah jam 7, Papa belum pulang juga. Untung saja tadi Papa sudah menelpon. Katanya ada pohon tumbang di jalan utama, jalanan macet dimana-mana jadi papa singgah sebentar di rumah teman sambil menunggu jalanan lancar kembali. Kalau begitu aku masak supermi saja. Biasanya kalau ada Papa aku masak telur dadar atau nugget. Aku memang tidak jago masak. Masak nasi juga pakai rice cooker. Kalau sayur paling sayur bayam atau sop wortel dan kembang kol. Makanya kalo Papa habis gajian biasanya beliau membeli sate atau sop buntut untuk makan malam. Tapi di rumah kami sering lewat tukang nasi goreng malam-malam.Kalo aku malas memasak, paling-paling kami memesan nasi goreng yang lumayan murah itu.

Sambil mengepel lantai rumah yang basah karena bocor, aku melihat jam dinding. Rupanya sudah jam 8. Wah payah nih. Hujan masih deras walaupun tidak sederas yang tadi. Rumah kami ini memang sudah tua. Rumah warisan dari nenek. Nenek adalah seorang guru piano juga tapi dia punya sekolah musik sendiri. Beliau bahkan pernah konser di luar negeri. Aku sendiri tidak pernah melihat nenekku karena beliau wafat setelah melahirkan ayahku. Tapi nasib ayahku tidak sebaik nenek. Beliau pernah mendapat beasiswa ke luar negeri tapi ditolak. Ayah punya banyak utang karena membiayai pengobatan almarhumah adek yang sakit kanker. Akhirnya ayah harus menggadaikan banyak barang dan menghabiskan tabungan. Sekolah musik nenek juga ditutup. Gedung dan pianonya dijual untuk menutupi hutang. Syukurlah sekarang hutang itu sudah lunas sehingga beban hidup kami tidak terlalu banyak. Kalau saja ibu mau bersabar. Tapi aku tidak mau menyalahkan ibu. Kata Papa ibu hanya manusia yang lemah. Aku sangat mengagumi Papa karena beliau sangat tegar. Mungkin karena Papa sudah terbiasa kehilangan orang yang disayangi sepanjang hidupnya. Kulihat keluar jendela. Hujan tidak berhenti-henti juga.

Kupikir tadinya aku bisa menunggu Papa dengan tenang sambil menonton TV. Tapi hidup memang tidak menyenangkan. Sepertinya antenanya tergoyang angin, sehingga tayangan TV jadi buram. Aku sebal sekali. Akhirnya aku putuskan untuk membaca komik di kamar. Sebelumnya aku kunci dulu semua pintu dan matikan semua listrik. Papa punya kunci cadangan jadi aku tak perlu khawatir kalau ketiduran. Kalaupun ada tamu rasanya tak perlu kuhiraukan karena dia pasti gila datang malam-malam dengan hujan lebat seperti ini.

Entah berapa komik yang aku baca, semuanya tidak menarik. Tentu saja karena sudah lama tidak beli komik. Mungkin kalo sudah mulai sekolah aku jual komik lama ini ke teman-teman dan uangnya buat beli komik baru. Kupeluk boneka babi peninggalan adek. Duh adek kamu enak ya sudah di surga. Mudah-mudahan Papa cepat pulang ya dek. Amin. Tiba-tiba terdengar dering telpon. Jangan-jangan dari Papa.

“Maaf apakah ini nomor telpon rumah saudara Rainhard?”

“Ya, ini dengan siapa ya?”

“Ini dengan temannya, Pak Izra. Mau memastikan apakah Pak Rainhard sudah pulang.”

“Oh, dia belum pulang tuh Pak.”

“Maaf ini Stella ya?”

“Ya”

“Oh, ya. Siapa lagi ya kalau bukan stella, hahahaha….. kalau begitu hati-hati ya dek. Jangan lupa kunci pintu dan matikan listrik.”

“Ya, pak. sudah dilakukan kok.”

“Kalau begitu kita doakan saja papamu cepat pulang ya nak.”

“Ya mudah-mudahan saja ya pak. Saya juga khawatir sekali.”

“Ya sudah, sabar ya nak. Kalau ada apa-apa telpon rumah saya saja. Nomornya tau

kan

?”

“Iya, saya sudah tau kok, Pak. Terima kasih ya Pak.”

“Baik, kalo begitu…… tuuut tuuut tuuut tuuuuuuuuttttt..”

“Dasar cerewet itu orang!!!!!”

Kulihat ikan-ikan di akuarium berenang. Lampu neon akuarium mengkilau di tengah kegelapan ruang tamu. Duh Papa, cepatlah pulang. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis. Kenapa sih ibu jahat banget. Kalau dia tidak kabur dari rumah

kan

mungkin aku tidak perlu sekhawatir ini. Ah sudahlah, buat apa mengharapkan orang yang sudah tidak tahu entah berada dimana. Paling-paling dia juga sudah tidak peduli terhadap kami. Benar-benar liburan sekolah yang menjengkelkan. Setidaknya kalau sekolah, perasaan-perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Hilang ditelan segenap tugas dan aktifitas. Kalau tidak hujan mungkin bisa mengundang teman menginap tapi hujan deras begini. Daripada memikirkan yang tidak-tidak akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja.

Sudah berapa lama tidur-tiduran di kamar ternyata tidak bisa tidur juga. Mungkin aku tidak bisa tidur karena khawatir. Karena itu kuputuskan untuk melahap semua coklat yang tersisa di lemari es. Yah beginilah kalau perempuan sedang stress. Mungkin aku akan menjadi gemuk tapi toh badanku memng bongsor jadi siapa yang peduli. Tak puas melahap coklat, aku memutuskan masak supermi dan memakannya. Setelah makan perasaanku sedikit lebih lega.Kulirik jam dinding. Huh sudah hampir jam 10. Segera kucuci piring dan mengurus sampah-sampah. Sampah-sampah lebih baik ditaruh di dalam saja. Kalau hujan begini ditaruh di luar jadi bau. besok pagi saja aku sendiri yang kasih ke tukang sampah.

Hujan sudah mulai reda tapi tidak kunjung berhenti juga. Ini sudah jam setengah 11 malam. Aku kesal sekali. Akhirnya aku bermain piano saja untuk menenangkan hati. Toh, hujan-hujan begini tak ada yang akan mendengar. Tapi ternyata aku tambah kesal. Tak satupun lagu yang bisa kumainkan dengan baik. Pasti ada yang salah. Lupa tuts hitamlah. Lupa akordnyalah. Aduh Tuhan cepatlah kirim Papa kemari. Tiba-tiba terdengar bunyi bel. Wah rupanya doaku cepat terkabul. tapi mengapa harus mengebel bukankah Papa punya kunci cadangan. Oh My God, please help me. Segera aku ambil pemukul kasti, kalau itu orang jahat awas ya! pasti langsung kupukul sampai babak belur. Kubuka pintu lalu mengintip dari bilik teras. Kulihat seorang wanita dengan payung. Di belakangnya ada taksi yang segera melaju pergi.

“Maaf siapa ya?”

Hening. Dia tidak menjawab.

Kuletakkan pemukul kasti dan kuambil payung di teras. Aku segera menuju pagar menghampiri wanita itu.

“Maaf ada perlu apa?”

Wajahnya tak bisa kulihat karena gelap. Tapi aku tahu siapa dia waktu dia mendongak.

“Maafkan mama ya nak. Mama memang wanita yang lemah. Tapi mama berjanji akan merawatmu dengan baik kali ini”

Aku diam saja. Semua ini terlalu tiba-tiba untukku.

“Stella, Papa sudah menyusul adek. Sekarang tinggal kita berdua. Kita harus saling menjaga.”

Aku pusing sekali. Seakan-akan ruangan berputar-putar.

“Tadi bus papa kecelakaan.”

Seketika semuanya menjadi gelap. Aku tidak bisa bernafas.

“Stella, kamu harus tegar ya.”

Tiba-tiba aku jadi tuli. Aku tak tahan lagi. Tubuhku lemas seperti tercekik.

“Stella, Stella, bangun nak.”

TAMAT

Jakarta, 8 Juli 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s