Tiara, seperti biasa setelah kelas selesai jam 3 sore, tidak langsung pulang ke rumah, ia asyik menggambar di pojok kelas. Dia menikmati kesendiriannya di temani jingganya langit sore. Kalau sedang seperti itu, ia seperti terserap oleh kertas gambarnya. Lupa waktu, lupa daratan. Mabuk dalam khayalannya. Sambil sekilas mengamati langit sore yang cantik yang kuning menjadi jingga lalu merona seperti merah jambu dan memudar menjadi ungu. Ia hanya tersadar kalau petugas kebersihan sudah mengusirnya atau libunya sudah memanggilnya lewat handphone. Ia akan tersadar dan segera pulang. Lalu diam-diam melanjutkan gambar di waktu malam, kalau dia sedang tidak bisa tidur dan tidak sedang banyak PR. Kalau liburan kadang dia suka begadang sampai pagi hanya untuk menggambar.

Tiara bisa menggambar macam-macam gambar, pemandangan alam, suasana kota, karikatur kartun atau komik, benda-benda dan orang-orang tentunya dengan gaya gambarnya yang tidak realis cenderung komikal karena dia sangat suka membaca komik dan buku cerita bergambar. Di antara semua itu, Ia suka sekali menggambar karikatur binatang yang lucu: babi, biri-biri, kelinci, beruang, panda, lumba-lumba, ikan paus, bintang laut, dugong, kerbau, kodok, dan kura-kura. Sebenarnya dia juga mengagumi hewan-hewan afrika seperti gajah, jerapah, zebra, kuda nil, singa dan badak tapi agak sulit menggambarnya dan ketika ia mencoba menggambarnya, hewan-hewan itu lebih kelihatan seperti boneka, padahal ia juga mengagumi kegarangan hewan afrika. Jadi dia merasa gambarnya kurang mencerminkan mereka. Karena itu dia lebih suka menggambar hewan yang aslinya lucu dan membuat orang-orang ingin memeluknya. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia lebih sering menggambar kura-kura. Mungkin karena mudah menggambarnya atau karena lehernya yang panjang, kepalanya yang bulat dan kaki-kaki lambannya yang kecil membuatnya gemas. Dan tidak seperti biasanya, ia mewarnainya dengan berbagai warna selain warna hijau: merah, biru, jingga, ungu, pink, cokelat muda dan warna-warna pastel lain. Tiara lebih senang memakai pensil warna, warnanya lebih halus walau sulit mewarnai dgn penuh tapi dia suka arsirannya, baginya itu jauh lebih indah dari crayon dan cat warna yang membuat tangannya kotor atau spidol yang mudah habis isinya kalau sering dipakai.

Sebenarnya Tiara takut setengah mati dengan hidupnya. Karena ia tak begitu cerdas, ia lemah di semua pelajaran, kurang bisa bergaul, tidak berbakat musik atau olahraga. Kalau sedang sekolah, ia belajar dengan giat tidak seperti anak lainnya yang setengah bermain. Dia selalu mengerjakan PR dan tugasnya, ia juga les privat sabtu dan minggu. Tiara juga anak yang baik, pendiam, tidak pernah melawan orang tua, penurut, rajin sholat, dia memang selalu ingin menjadi yang terbaik bagi orang tuanya. Namun ia sedih, karena nilai-nilai pelajarannya tidak terlalu bagus. Yah, memang orang tuanya tidak pernah menuntut dia harus rangking berapa, mereka bilang yang penting tiara naik kelas, tidak bikin masalah di sekolah, mereka juga sudah puas. Tapi Tiara merasa dunia tidak seperti itu, tidak dengan guru-gurunya, guru privatnya, guru les pianonya, teman-temannya, neneknya, sepupu-sepupunya dan banyak lagi. Alangkah indahnya dunia jika yang hidup di dunia ini hanya Tiara, orangtuanya dan binatang-binatang lucu lainnya. Karena baginya hanya mereka yang membuatnya bahagia. Setidaknya mereka tidak akan menghardik Tiara saat Tiara menikmati kesendiriaannya mendengar suara-suara bumi ataupun mencemoohnya padanya kalau mereka sedang kesal atau mengejeknya kalau nilainya jelek ataupun memarahinya habis-habisan kalau ia sering ceroboh. “Bodoh! Tolol! Idiot! Goblok! Gak punya otak!” Tiara muak kata-kata itu setiap hari.

Makanya ia menggambar. Menggambar membunuh pikiran-pikirannya. Membunuh kenangan-kenangan buruknya. Membunuh prasangka, kengerian, ketakutan dan segala macam perasaan. Kalau sedang menggambar, ia lupa hal-hal yang buruk dan hanya merasakan kebahagiaan. Seperti ia lari dari dunia yang melelahkan ini, masuk ke dalam dunia imaji dari gambar-gambarnya. Sekejap ia amnesia, sekejap ia mabuk kepayang.

Hari ini, seperti biasa, Tiara menggambar di pojok kelas ditemani jingganya matahari sore. Dia menggambar kura-kura dengan beraneka warna. Kura-kura biru suka merengut, kura-kura ungu suka menari, kura-kura hijau suka makan, kura-kura kuning suka main piano, kura-kura merah suka karate, kura-kura jingga suka bernyanyi, kura-kura abu-abu suka berenang. Mereka tinggal bersama di rumah batu di dekat pantai pulau galapagos. Dalam bayangannya, pulau itu indah bagai surga, penuh dengan dinosaurus, reptil raksasa dan hewan purba.

Sedang keasyikan terlena dalam dunia gambarnya, tiba-tiba petir menyambar kencang sekali. Lampu padam seketika, Tiara kaget bukan main. Tiara merasa ada yang merasuki tubuhnya. Dia merasakan ada yang sengatan aneh mengalir di darahnya. Tubuhnya gemetar, merinding ketakutan. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya bertransformasi. Kulitnya mengeras, punggungnya jadi berat, jari-jarinya memendek lalu tangan dan kakinya juga. Dalam sekejap tubuhnya menyusut. Tiara terkejut setengah mati. Tiba-tiba tubuhnya mengeras. Sekejap ruangan jadi besar sekali. Langit-langit kelasnya menjadi sangat tinggi. Ia ingin teriak minta tolong tapi suaranya tak keluar. Ia mencoba berdiri tapi ia hanya bisa merangkak. “Apa yang terjadi denganku?”, pikirnya panik. Ia mencoba berlari keluar ruangan yang gelap gulita namun langkahnya berat sekali. Ia hanya bisa berjalan lambannnnnn sekali. Saking lambannya, dia jadi sangat marah sekali dan ingin menangis. “Tolong!! Toloooonggg!!”jeritnya dalam hati.

Datanglah mbak-mbak petugas kebersihan ke kelasnya membawa senter. “Wah mati lampu, gelap banget nih, wa jadi takut,” ujar mbak-mbak yang rambutnya dicat merah seperti mulan jameela itu. “Tuh anak aneh udah pulang gak ya? Kok barang-barangnya masih berserakan gini.” Mbak-mbak nyentrik itu pun membereskan alat gambar tiara dan memasukkannya ke dalam lemari kelas. “Terima kasih mbak”, ucap Tiara dalam hati. Saat mau mengepel lantai kelas, betapa kagetnya dia melihat Tiara. “Ih ada binatang!! Buset dah! Wa paling takut sama binatang!” jerit mbak-mbak itu. “Duh gimana nih, wa taroh kolam di taman aja dah.” mbak-mbak itu mengangkat tubuh tiara dengan agak jijik. Tiara merasa melayang dan tiba-tiba plung! Dia dimasukkan dalam kolam dan mbak-mbak itu pun meninggalkannya. “Tunggu mbak, tunggu, tolong antar saya pulang!!” jerit tiara, tapi tak sedikitpun suaranya keluar.

Sudah 2 minggu berlalu, Tiara masih tinggal di kolam di taman belakang sekolah. Selain lamban dan kecil, ia juga jadi susah mengenali jalan, dan kalau ada yang menemukan dia agak jauh dari kolam entah murid, guru, satpam, petugas kebersihan, atau siapa saja pasti akhirnya mengembalikannya lagi ke kolam. Begitulah ia tinggal bersama ikan-ikan di kolam, kadang memakan lumut, sampah-sampah daun atau sisa-sisa kotoran di kolam. Tiara kangen sekali mama papanya, ia kangen rumahnya, kangen kamarnya, kucingnya, boneka-bonekanya, hidupnya yang dulu. Setiap malam dia selalu menangisi nasibnya yang tak jelas begini. Kenapa dia menjadi kura-kura.

Di rumahnya, ayah ibunya kalut bukan kepalang. Semenjak tiara hilang, mereka sudah mencari entah kemana, melapor ke polisi, membuat iklan di surat kabar, bertanya ke sana kemari tapi tidak ada hasil. Orang-orang pun seperti kurang peduli, mereka membantu sekedarnya, tak ada yang benar-benar peduli pada Tiara. Mbak-mbak petugas kebersihan hanya mengaku melihat barang-barangnya tertinggal tapi dia tidak mau terlalu ambil pusing dengan kasus hilangnya Tiara. Bahkan guru-gurunya cenderung cuci tangan, “Salah orang tuanya dong, dia hilang setelah jam sekolah kok.” Kata-kata itu membuat ibunya mengamuk di ruang guru, dengan garang ia menjambak dan menonjok guru-guru itu. Sejak itu, orang tua Tiara dilarang mengunjungi sekolah itu lagi.

Sejak Tiara hilang, Ibunya menangis setiap malam. Setelah sebulan berlalu, rambutnya rontok karena stress. Bapaknya tidak bisa tidur dan tidak bisa konsentrasi kerja. Tampangnya sudah seperti napi berewokan. Mereka jarang makan, jarang tidur, jarang bicara kalaupun bicara berakhir dengan bertengkar saling menyalahkan atas hilangnya Tiara. Namun mereka sadar, tidak bisa terus-terus begini. “Kita harus sabar, bu. Kita harusnya saling menguatkan,” ujar sang ayah. Sang ibu mengiyakan. “Ya, aku harus tegar untuk anakku, kalau aku hancur, bagaimana nasibnya?”

Malam itu, sunyi sekali, sang ibu berdoa sambil menangis sejadi-jadinya. Dia mengadukan segala perasaan yang berkecamuk dalam dadanya kepada tuhan. Setelah itu, dia merasa hatinya jadi tentram, seolah-olah gunung yang membebani punggungnya runtuh. Seolah ada cahaya kecil yang menuntunnya. Kilat menyambar, hujan mengguyur bumi dengan deras. Sang ibu bermimpi menari bersama kura-kura. Timbul perasaan aneh dalam dirinya. “Aku harus pergi ke sekolah itu lagi,”ucapnya dalam hati.

Esoknya, sang ibu menyelinap masuk ke sekolah Tiara, menyamar jadi bapak-bapak. Kalau ketahuan kemungkinan besar dia akan diusir karena pernah mengamuk di ruang guru. Dia menemui teman-teman sekolah Tiara dan menyai mereka lagi tapi mereka seperti biasa acuh tak acuh. Sang ibu jadi kesal, hampir-hampir dia ingin mengamuk lagi, tapi ia menyabarkan dirinya. Lalu ia bertemu mbak-mbak petugas kebersihan yang sekarang rambutnya sudah dicat pirang seperti pinkan mambo. “Aduh sudah berapa kali wa bilang, wa kagak liat tuh anak, cuman barang-barangnya ketinggalan, plis dong argh.” Melihat gaya bicaranya yang tidak simpatik dan sok imut itu, hampir-hampir darah sang ibu mendidih tapi dia berusaha sabar. “Sabarrrrrrrrrrr, sabarrrrrrrrrrrrrrrrr, sabarrrrrrr, orang sabar disayang tuhan.” ucap sang ibu dalam hati. “Jangan-jangan dia menjelma jadi kura-kura ya, ihhhhh tapi wa pikir itu kayaknya tidak mungkinnn lah yaw” kata mbak-mbak itu dengan centil. Sang ibu jadi muak tapi sekejap dia hening sebentar tapi dia jadi tersadar sesuatu yang penting yang tadinya dia pikir tidak penting. “Kura-kura? kenapa kura-kura?”
“Ya gara-garanya setelah tuh anak hilang yang muncul malah kura-kura, aaneh ya! mungkin hewan peliharaannya kali yaaa…, wa taro aja di kolam belakang..”
“Mana? dimana kura-kura itu?”
“Tuh di kolam itu, kura-kura yang itu, lucuh yah pak?”
“Oh kura-kura itu,” sekejap ada perasaan hangat di hati sang ibu saat melihat kura-kura itu.
Perasaan rindu yang mendalam dan tumpah ruah.
“Jangan-jangan benar dia anakku. Tapi ah apa mungkin? bagaimana mungkin bisa begitu?”
Ditatapnya kura-kura itu dengan seksama, alangkah anehnya, kura-kura itu tersenyum.
Lalu saat ia menangis, kura-kura itu juga menangis.
“Apakah kamu Tiara?”
kura-kura itu mengangguk.
“Arghhh, benar, kau benar anakku…”
Mbak-mbak petugas kebersihan bingung bukan kepalang. “Ih, wa gak nyangka, cakep-cakep gila rupanya.”
Segera sang ibu membawa kura-kura itu pulang dan mengabari suaminya. Tapi tentu saja suaminya tidak percaya dan menganggapnya istrinya sedang stress. “Kasihan dia.., mungkin kita harus ikhlas, mudah-mudahan dimanapun Tiara berada, tuhan selalu menjaganya.”

Sang ibu dari hari ke hari berusaha meyakinkan suaminya namun sang suami tetap tidak luluh. Ia merasa istrinya jadi kurang waras namun karena kasihan dia cuma mengiyakan saja. Sang ibu setiap hari merawat Tiara dengan seksama, beliau jadi rajin nonton acara animal planet, baca buku tentang biologi, sang ibu pun ingin kuliah lagi di bidang kedokteran hewan supaya bisa menjaga anaknya dengan lebih baik. Dulu ia terpaksa drop out dari kuliahnya karena tidak ada biaya dan otaknya juga pas-pasan lalu bekerja sebagai sekertaris. Walau tidak terlalu cantik tapi ia adalah wanita yang sangat rapi, bersih dan rajin, akhirnya ia menikahi bosnya yang akhirnya menjadi ayahnya Tiara. Setiap hari Tiara makan sayur-sayuran dan buah-buahan, makanan favoritnya adalah selada dan pepaya. Pola makan Tiara membuat ibunya berubah jadi vegetarian.

10 tahun berlalu, Tiara sudah jadi kura-kura yang besar dan sehat. Ibunya sekarang jadi dokter hewan untuk menafkahi hidup mereka. Orang tuanya sudah bercerai, ayahnya tidak tahan dengan perilaku ibunya yang ia pikir sudah tidak waras namun hubungan keduanya tetap baik, mereka sekarang hanya teman dekat saja. Ayahnya sudah menikah lagi dengan bule amerika dan tinggal di sana. Dari mereka, Tiara mendapat adik tiri blaster yang lucu. Mereka suka mengirim foto dan postcard untuk ibunya.

Saat sore, langit berwarna jingga, Tiara sedang asik makan pepaya. Entah kenapa langit jingga tidak pernah membuatnya bersedih. Dengan segala apa yang terjadi dalam hidupnya, entah kenapa bila ia melihat langit berwarna jingga, ia merasa hidupnya indah. Dan dia tak punya alasan apa-apa selain bersyukur bahwa ia mempunyai orangtua yang sangat baik di dunia ini. Walaupun seluruh kisah hidupnya bagaikan misteri, namun Tiara tidak mau mempertanyakannya lagi, ia hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang ia cintai, ibunya, ibunya dan hanya ibunya.

TAMAT

Jakarta, 10 Oktober 2009

4 pemikiran pada “Siluman Kura-Kura (Oleh: Nany Ariany)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s