10 tahun yang lalu, Arwen sekeluarga pindah rumah. Mereka pindah ke kompleks perumahan kecil, di daerah pinggiran kota. Jalan menujunya dekat dengan jalan tol lalu masuk ke daerah kampung yang banyak pohon karetnya. Kompleks itu sendiri masih baru berdiri dan masih sedikit penghuninya. Di sekelilingnya terdapat danau, bukit hijau dan bahkan sawah. Udaranya masih segar dan airnya dingin. Tempat ini jauh lebih menyenangkan bagi Arwen dibanding rumahnya yang dulu. Di sana ramai, semerawut, airnya keruh dan panasnya bukan main. Hanya saja ia agak takut dengan sepinya kompleks di malam hari yang kadang-kadang mencekam.
Ada sesuatu yang selalu terpikir oleh Arwen sejak ia pindah. Di bukit di belakang komplek terdapat sebatang pohon sangat besar berdiri sendiri. Daunnya berwarna ungu muda berbecak ungu tua dan bertulang merah marun, kalau tersiram sinar matahari terlihat seperti pohon sakura ungu. Batangnya dililit tali daun kemerahan, akar besarnya menjalar seperti pohon beringin. Pohon itu lain dari pohon-pohon di sekitarnya yang hijau. Kata tetangganya, sejak kawasan ini dibuka jadi perumahan, pohon itu sudah ada. Kalau dilihat dari besar batangnya keliatannya pohon itu sudah berumur ratusan tahun dan dari warnanya kelihatannya seperti species langka. Arwen sudah mencari tau dari buku dan internet tentang pohon itu namun tidak ada data spesies yang cocok. “Mungkin ini pohon langka yang belum ditemukan sebelumnya.” Namun karena orang-orang sekitar kompleks tidak terlalu peduli dengan keberadaan pohon itu, arwen pun tak mau ambil pusing.

Arwen yang awal mula hanya terpikat lama-lama merasa terserap oleh pohon itu. Setiap pulang sekolah, ia selalu mengunjunginya, bersandar di batangnya, menikmati keindahannya. Kadang-kadang sampai larut malam. Pada orangtuanya, ia selalu punya seribu alasan pulang telat, belajar di rumah teman, beli buku di mall, atau rapat osis. Anehnya orang tuanya tak pernah curiga. Bagi mereka Arwen anak teladan, rajin, pintar, pendiam, sopan, tak pernah membuat masalah.

Arwen memang pintar menyembunyikan emosinya, tak banyak bicara, tak pernah berkata kasar, banyak tersenyum, kalau marah ia hanya diam dan menghindar. Orang-orang tidak bisa menebak emosinya dan Arwen merasa nyaman dengan itu. Namun terlalu lama menekan perasaan tidak baik pula. Arwen kadang merasa ia tidak punya hati, ia tidak menangis melihat korban bencana dan tetap tenang melihat kebakaran. Jarang sekali ada lelucon yang membuatnya terbahak dan ia merasa romantisme itu sampah. Tapi dengan pohon ungu itu lain, perasaan Arwen sangat membara terhadapnya. Seperti tidak ingin berpisah, selalu ingin bertemu, pohon ungu itu telah menjadi belahan jiwanya.
Hingga malam itu terjadilah hal yang janggal, Arwen tak bisa tidur, sekujur tubuhnya gatal-gatal. Badannya lemas, kepalanya pusing berputar-putar. Orangtuanya panik melihat anaknya sakit apalagi warna muka dan tangannya berubah ungu muda dan ada bercak-bercak ungu tua. Urat syarafnya menonjol seperti varises namun warnanya bukan biru melainkan merah marun. Arwen segera dibawa ke rumah sakit, sepanjang perjalanan ia menggigil. Ibunya menangis kebingungan, ayahnya tak bisa berpikir apa-apa. Tetangga yang ikut mengantar ketakutan bukan main. Mereka menganggap Arwen kemasukan setan penunggu pohon ungu. Sebelum masuk ruang operasi, mendadak Arwen diam dan tak bergerak. Sekujur tubuhnya menjadi ungu dan dingin. Ia sekejap tak bernafas, jantungnya berhenti. Orangtuanya tak sanggup menahan isak tangis, anak kesayangan mereka telah meninggal dunia.

Kematian Arwen yang janggal membuat kecurigaan dan ketakutan yang mencekam warga kompleks. Setelah tahlilan di rumah duka, mereka sepakat membakar pohon ungu itu. Malam itu, mereka sudah siap dengan obor dan api. Namun tiba-tiba turun hujan yang aneh, airnya berwarna ungu. Daun-daun pohon ungu itu yang mencipratkannya. Pohon ungu itupun marah, dengan akar-akarnya yang besar, ia mengamuk membuat gempa di sekelilingnya. Lalu dgn tali daunnya ia menjerat orang-orang yang ingin membakarnya, mereka lalu dipentalkan jauh sekali. Warga panik, mereka semua bergegas pergi jauh dari kompleks itu. Pohon itu terus marah akar-akarnya yang besar merambat hingga sekeliling kompleks, mengibas siapapun yang melewatinya. Akarnya masuk ke rumah duka dan menculik mayat Arwen, kekasihnya. Ayah dan ibu Arwen hanya terpana melihat jenazah Arwen dililit akar raksasa. Warga menarik mereka untuk kabur dari amarah pohon itu. Malam itu berlalu bagaikan mimpi buruk.
Esok paginya, warga mengintip keadaan kompleks. Suasana begitu sunyi dan senyap. Pohon ungu itu sudah tidak ada lagi di bukit, hilang entah kemana, hanya meninggalkan lubang besar menganga di tempatnya dulu. Mayat arwen juga tak ditemukan. Warga pun kembali pulang dan hidup tenang.
10 tahun berlalu, kompleks itu sudah jadi lautan beton dan panas, lubang bekas pohon itu sudah jadi timbunan sampah. Namun kisah cinta Arwen dan pohon ungu masih jelas dalam benak para saksinya sebagai misteri abadi.

3 pemikiran pada “Misteri Pohon Ungu (Oleh: Nany Ariany)

  1. ah kirain misteri suatu pohon yang menuju kearah pengobatan atau sejenis pohon obat lah yang bermanfaat… eee ternyata cerita buat nina bobok doank…. sayang deh…

  2. Bagus kok …. imajinasi masa kecil terusik lagi. pohon, batu, gunung, rumput adalah sahabat2 kita. Betapa damainya hidup ketika kita “menghayati” bahwa dunia ini tidak melulu berisi manusia yg sibuk dengan harta dan ambisi . Sampai sekarang saya bisa membedakan pohon yg cantik, tampan, centil, tua, wibawa dsb … I love you All

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s