Tax Avoidance (Penghindaran Pajak) merupakan usaha meminimalkan biaya pajak yang masih dalam koridor Undang-Undang dan peraturan yang berlaku. Biasanya penghindar pajak menggunakan celah-celah dari undang-undang yang belum mengaturnya. Salah satu cara melakukan Tax Avoidance yang populer saat ini adalah dengan menggunakan instrumen keuangan. Karena belum adanya peraturan perpajakan Indonesia yang baku dalam mengatur transaksi instrumen keuangan  tersebut, kita dapat mengintepretasikan pengakuan laba/rugi maupun utang/modal sesuai  pertimabnagan manajemen. Transaksi yang dimaksud antara lain adalah:

A. Transaksi Derivatif di luar Bursa

Instrumen derivatif adalah instrumen keuangan yang nilainya tergantung pada instrumen keuangan lain (underlying asset), motifnya dapat untuk jaga-jaga atau lindung nilai yaitu untuk menghindari fluktuasi harag instrumen keuangan yang dilindungi (underlying asset) namun bisa juga untuk spekulasi (tidak ada motif untuk melindungi  underlying asset). Misalnya option untuk menjual saham, pada tanggal tertentu di masa depan, pemilik option senilai berhak Rp.50/lembar untuk membeli saham pada Rp. 1000/lembar. Maka bila harga saham di bawah Rp. 1000, pemilik option akan merugi Rp.0 karena penurunan harga saham di-offset dengan kenaikan harga option. Contoh lain misalnya  interest swap atas bunga obligasi, selisih antara floating rate dan fixed rate akan mempengaruhi nilai swap contract. Hal ini menjadi sangat berbahaya bila instrumen derivatif digunakan untuk spekulasi sehingga tidak terdapat underlying asset yang meng-offset kerugiannya.

Celah penghindaran pajak dapat dilakukan dengan mengakui rugi derivatif untuk spekulasi saat belum terealisasi dan hanya mengakui laba saat terealisasi dengan dalil asas konservatif dalam accounting. Karena tidak terdapat underlying asset yang meng-offset kerugiannya, kerugian yang dihasilkan sangat besar sekali. PSAK NO. 55 pada umumnya menggunakan metode mark-to-market (penyesuaian laba rugi atas fluktuasi harga pasar sebelum realisasi) namun menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan manajemen. Sedangkan dalam peraturan pajak PP No. 51 tahun 2008, PPh final hanya peruntukkan untuk transaksi dalam bursa, hal ini justru memukul bursa derivatif dan untuk transaksi di luar bursa tetap dapat menggunakan celah penghindaran pajak ini.

B. Transaksi Saham di luar Bursa

PSAK No. 13 menggolongkan investasi saham menjadi 3:

  1. Trading (Digunakan untuk jual beli, dimiliki dalam jangka kurang dari 1 tahun): mark-to-market (laba rugi atas penyesuaian harga pasar sebelum realisasi)
  2. Available-to-sale (Digunakan untuk jual beli, dimiliki dalam jangka lebih dari 1 tahun): memakai asas konservatif, rugi diakui mark-to-market, laba diakui saat realisasi.
  3. Hold-to-maturity (Investasi dipertahankan sampai periode umurnya): tidak ada penyesuaian harga pasar, investasi dicatat sesuai harga

Walaupun terdapat pengelompokkan ini namun PSAK No. 13 menyerahkan keputusan manajemen yang lebih mengetahui strategi perusahaan. Celah penghindaran pajak dapat dilakukan dengan dengan mengakui saham sebagai saham available-to-sale. Rugi saham saat belum terealisasi saat belum terealisasi dan hanya mengakui laba saat terealisasi. Dalam peraturan pajak (PP No.  41 Thn 1994 jo PP No. 14 Thn 1997), PPh final hanya diperuntukkan untuk transaksi dalam bursa efek, sehingga untuk transaksi di luar bursa tetap dapat menggunakan celah penghindaran pajak ini.

C. Pendanaan melalui Hybird Instrument

Hybird Instrument adalah investasi keuangan yang bentuknya dapat dikategorikan baik sebagai modal (ekuitas) ataupun utang. Contohnya: Convertible bond (obligasi yang pada akhir periode jatuh tempo dapat diubah menjadi saham), Dana Syirkah Bagi Hasil (utang dengan balas jasa deviden-bagian dari profit dan ada kontrol terhadap manajemen, PSAK No. 101 tidak menggolongkannya sebagai modal ataupun utang). Hal ini menjadi penting karena terdapat perbedaan perlakuan pemajakan antara utang dan modal. Imbalan dari investasi utang yaitu berupa bunga dapat dibiayakan oleh debitur. Sedangkan imbalan dari investasi modal berupa deviden tidak dapat dibiayakan oleh penerbit saham. Investasi modal pun dapat berpotensi menimbulkan efek pajak dari peraturan koreksi transaksi antar pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa. Celah penghindaran pajak dapat dilakukan dengan menyuntikkan dana bagi anak perusahaan dengan convertible bond dimana beban bunga dapat dibiayakan sampai akhir periode jatuh tempo. Atau membiayakan balas jasa bagi hasil dana syirkah sebagimana pembebanan bunga. Belum ada batasan jelas dalam peraturan perpajakan Indonesia tentang penggolongan utang dan modal.

D. Pendanaan melalui Back to Back Loan

Pendanaan melalui Back to Back Loan dilakukan dengan menjaminkan hutang anak perusahaan pada pihak ketiga untuk menghindari ketentuan DER (debt-equity-ratio) bagi hubungan istimewa seperti yang diatur UU PPh pasal 18 ayat 1. Namun pada hakikatnya transaksi itu dapat dilakukan langsung oleh induk perusahaan dengan langsung memberi utang kepada anak perusahaannya tanpa pihak ketiga. Dengan terhindarnya ketentuan DER, anak perusahaan dapat membiayakan bunga secara penuh yang akhirnya menurunkan laba kena pajak.

Sumber:

  • Cross Border Transfer Pricing – Darussalam, SE, Ak, MSi, LLM Int.Tax dan Danny Septriadi, SE, MSi, LLM Int.Tax
  • Transaksi Derivatif dan Aspek Pemajakannya – Darussalam, SE, Ak, MSi, LLM Int.Tax

4 pemikiran pada “Celah Penghindaran Pajak Melalui Instrumen Keuangan Oleh: Nany Ariany, SE

  1. mengapa org melakukan tax avoidance?
    apakah pajak di dunia ini terlalu banyak?😀

    eh, kalo aku gak mau bayar PPh, gak ada cara tax avoidance-nya ya?😄

  2. saya ingin menanyakan biaya administrasi apa saja yang dapat dihemat jika melakukan sentralisasi ppn… apakah penghematan biaya administrasi berpengaruh pada biaya pajak?

  3. @yessica
    Paling dari segi administratif lebih simple, karena transaksi antar cabang-pusat tidak perlu dibuatkan faktur pajak, berarti menghemat kertas, jam kerja dan resiko denda pajak atau faktur pajak cacat krn salah ketik, hilang, dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s