Di negeri yang lahannya subur hijau dan penduduknya suka berdansa dan minum anggur, Anlosax, berkuasalah dinasti kaisar bernama dinasti Davikrad. Dinasti yang berhasil menggulingkan dinasti tuan tanah yang kejam keturunan Raja Feoda. Setelah berkuasa, sang kaisar Davikrad menghapus sistem kasta dan pemujaan terhadap dewi kesuburan Murya. Ia menyebarkan agama baru Rikardian yang menyembah sang Tangan Tak Kelihatan. Agama ini percaya bahwa sang Tangan Tak Kelihatan yang tidak pernah tidur diam-diam mengawasi lika-liku kehidupan Anlosax, lalu dengan sigap mengharmonikan semua sisi agar seimbang. Penduduk Anlosax tak perlu khawatir akan kekurangan, sang Tangan Tak Terlihat akan menambah apa yang kurang, mengambil dari yang berlebih, tanpa paksaan, tanpa kewajiban. Rakyat bebas menjadi apa yang mereka mau dengan usaha mereka sendiri, tidak seperti dulu yg ditentukan kasta. Kaisar tidak perlu mengatur rakyatnya, ia hanya turun bila ada perselisihan antar warga atau serangan dari negara tetangga yang barbar. Hanya terdapat dua aturan agama Rikardian yang dilarang keras melanggarnya yaitu: dilarang menipu dan dilarang berhutang.

Dinasti Davikard bertahan cukup lama, meggoreskan tinta emas pada sejarah Anlosax. Negeri itu maju luar biasa, rakyatnya saling bersaing menjadi yang terdepan. Bangsa Anlosax menjadi bangsa tertangguh sekaligus sombong, tanpa sadar kesombongan itu akan menjadi kehancuran negeri itu di masa depan. Karena ingin menjadi warga yang paling kaya, orang-orang kaya di Anlosax berlomba-lomba membangun istana yang megah. Ajang pergengsian ini menimbulkan petaka, diam-diam mereka berutang kepada saudagar luar negeri tanpa khawatir karena jaminan hartanya banyak. Lama kelamaan uang mereka habis untuk bermegahan dan tidak punya uang untuk membayar. Istana megah pun tidak bisa mereka jual, karena tidak ada yang sanggup membeli. Terpaksa mereka menjual apa yang bisa dijual dan memecat pelayan dan pegawai mereka, munculah pengangguran dimana-mana. Petaka telah terjadi di Ansolax, kelaparan dan penjarahan terjadi seantero negeri. “Semua ini gara-gara orang-orang kaya berhutang, sang Tangan Tak Terlihat menjadi murka,” ujar mereka. Sang kaisar pun karena mengikuti ajaran leluhurnya bersikeras tidak mau turun membantu, “biar mereka tahu, itulah akibatnya menginjak-nginjak larangan Rikardian. Sekarang mereka harus berusaha sendiri membereskan semuanya.”

Selama tujuh tahun negeri itu chaos, selama itulah kaisar tetap tak bergeming, tidak mau ikut campur. Kalaupun ada bantuan, hanya sedikit itupun hanya untuk korban kelaparan. Anggaran negara terbatas dan mereka harus punya dana militer yang cukup untuk menghindari serangan negeri tetangga yang barbar. Kaisar pun tidak mau berhutang ke luar negeri karena bertentangan dengan agama Rikardian. Hal itu membuat marah rakyatnya, “agama Rikardian ini tidak benar! mana katanya sang Tangan Tak Terlihat yang mengatur semuanya? yah memang kita melanggar larangannya tapi apakah setelah 7 tahun, kita belum juga diampuni? Semua yang tak berdosa juga kena imbasnya, bagaimana anak cucu kita nanti yang tidak tau apa-apa soal masa lalu?” Diam-diam mereka melakukan pergerakan melawan dinasti Davikard, salah satu pemarkasanya adalah Jendral Kyneschia. Sang Jendral berpikiran tak ada yang perlu diragukan soal eksistensi sang Tangan Tak Kelihatan namun kaisar juga berkewajiban mengurus rakyatnya bila sengsara karena itulah larangan utang itu tidak rasional dan mengada-ngada. Ia juga berpikir bahwa kaisar juga harus mau mengatur bagaimana supaya rakyat tidak melakukan hal-hal yang membuat kerugian banyak orang dalam bersaing.

Dengan cepat pemberontakan itu pun berhasil, Jendral Kyneschia pun menjadi kaisar baru. Agama Rikardian pun berganti menjadi agama Rikyneschian. Anlosax berhutang cukup banyak ke luar negeri, namun perekonomian negara itu mulai membaik. Kaisar membelikan makanan dan kayu bakar gratis membuka lahan-lahan pertanian gratis, kelaparan pun sirna dari negeri itu. Kaisar memberdayakan lagi istana-istana megah yang terlantar menjadi tempat pelesir, pengangguran pun dengan cepat berkurang. Dalam waktu 5 tahun, industri baru mulai tumbuh dan kemakmuran mulai menjamah Anlosax lagi. Karena takut dengan kejadian di masa lampau, kaisar membuat peraturan yang ketat untuk para pedagang agar bersaing dengan sehat dan supaya orang-orang kaya berhati-hati menggunakan hartanya. Titah kaisar ini membuat jengah para hartawan di negeri itu, di lain pihak kemanjaan rakyat akan makanan dan kayu bakar gratis mulai menngerogoti anggaran negara Anlosax. Belum lagi muncul lagi serangan mendadak dari negeri tetangga yang barbar, utang yang tadinya sudah hampir habis dicicil kini membengkak lagi. Karena istana terancam bangkrut, kaisar berusaha menghapus makanan dan kayu bakar gratis untuk rakyat. Namun rencana ini mendapat tantangan dari seluruh negeri. Munculah gerakan dari kaum pengusaha yang ingin kembali ke agama Rikardian. “Sudah benar itu Rikardian, Rikyneschian hanya menolong negara sebentar tapi lihat hasilnya rakyat jadi manja, bermental pengemis, hutang istana bengkak, negara mau bangkrut. Kita pun jadi tidak bebas, selalu diatur-atur oleh kaisar, bagaimana bisa maju?” “Benar! benar itu! dia merendahkan kekuasaan sang Tangan Tak Terlihat, lihat akibat dari ulahnya!” Dengan cepat mereka menggulingkan dinasti Kyneschia dan membuat agama baru Neo-Rikardian, agama ini hampir sama dengan agama Rikardian namun larangan berhutang sama sekali diganti dengan larangan berhutang banyak-banyak.

Tak sampai satu dekade setelah runtuhnya dinasti Kyneschia , sejarah terus berulang, kurangnya peraturan dalam agama Neo-Rikardian telah membuat malapetaka yang sama. Kerakusan manusia telah membutakan pikiran mereka dan akhirnya menenggelamkan mereka pada keterpurukan yang sama. Dan munculah aliran Neo-Rikyneschian yang menginginkan peran kaisar lebih banyak dalam mengatur ekonomi namun membatasi anggaran negara yang dibayai utang. Namun mental manja karena sudah biasa ditolong dan keterbatasan mencari nafkah sebanyak-banyaknya membuat perlawanan yang sama. Begitulah terus sejarah berulang selama berabad-abad di Anlosax, dinasti pro Rikyneschian berganti dinasti pro Rikardian lalu berganti lagi dengan dinasti pro Rikyneschian dan seterusnya. Tak berhenti seperti pertengkaran siang dan malam. Agama pun berubah menjadi teori di buku-buku yang laris manis samapai ke manca negara. Mereka kini punya larangan baru: Dilarang mengopi halaman di buku kami. Dan mereka tidak memuja lagi sang Tangan Tak Kelihatan, mereka mempunyai dewi baru untuk untuk disembah, dewi kemolekan yang sangat aduhai, sang Kardashian. Hanya ada satu yang tidak pernah berganti di Anlosax, penduduknya suka berdansa dan minum anggur, saat makmur ataupun sengsara.

TAMAT

Satu pemikiran pada “Berawal dari Sebuah Mitos (Oleh: Nany Ariany)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s