Yth dunia dan penghuninya yang sombong,
Hari ini kuucapkan selamat tinggal pada dunia yang kejam dan penuh kepalsuan. Hari ini aku akan tidur selamanya dalam keabadian. Tidak akan lagi ada perih, derita dan batin yang tersiksa. Tidak ada lagi fitnah, tidak ada lagi amarah, tidak ada lagi benci, caci maki dan sakit hati. Semua akan musnah hari ini bersama tubuhku yang berserakan di jalan.

Tolong sampaikan pada ibuku ini bukan salahnya. Dia ibu yang baik dan kuharap ia bisa mengerti kenapa aku harus melakukan semua ini. Ibu, maafkan aku, tolong jaga kitty untukku. Hanya ibu yang baik padaku, semoga ibu cepat melupakanku dan menemukan kebahagiaan.

Kepada semua orang di kelas yang selalu menjahatiku dan mengatakan hal-hal keji tentang aku dan ibuku, karma itu ada dan kalian semua akan menerima pembalasannya. Aku akan pergi ke akhirat dengan dendamku, tubuhku boleh mati tapi jiwaku akan terus menghantui kalian. Dan silakan kalian tertawa terbahak-bahak sesuka hati sampai kalian bahkan tidak tahu bagaimana lagi cara untuk tertawa. Ingatlah hari itu akan tiba dan kalian akan menyesali setiap kata dan setiap tindakan kalian untuk menyakitiku.

Aku mungkin lemah, aku mudah diinjak-injak dan tidak punya apapun untuk dibanggakan tapi kalian tidak berhak meludahi harga diriku dan melecehkan kemanusiaanku setiap hari hanya untuk membuktikan kalau kalian superior di atasku. Hari itu kalian berkuasa namun apakah kalian dapat melawan kuasa kegelapan? Nemesis akan menghabisi kalian dan kalian semua tak bisa lari darinya.
Dunia ini memang munafik, lihat saja nanti, 2 bulan pertama setelah aku mati, aku akan terus muncul di berita dan semua orang pura-pura bersimpati tapi setelah itu kalian semua akan lupa dan mencari korban lain seperti aku. Kupikir berapapun orang yang terjun dari atap ini tak akan bisa membuka mata hati kalian. Mungkin kalian memang setan. Karena itu orang-orang seperti kalian harus binasa.
Hari ini aku tumbalkan diriku untuk Nemesis, semoga ia membalas dosa-dosa kalian dengan siksaan yang pedih. Dan pada saat itu semua penyesalan sudah terlambat.

Selamat Tinggal,
Elena
———————————–

Pablo tidak pernah percaya pada hal gaib dan mistis seperti hantu, nemesis atau karma. Menurutnya hal-hal semacam itu hanya omong kosong. “Kenapa sih semua anak malah ngeributin surat ancaman gak penting itu? Itu kan hanya gertak sambal dari sampah busuk bernama Elena aja untuk menjelekkan nama sekolah kita aja. Emang kita ngapain dia sih? Di sekolah lain juga banyak anak yang di-bully tapi gak harus bunuh diri kan?” pikirnya sambil merokok. “Salah sendiri dia masuk sekolah keren kayak gini, gue kalo jadi cewek punya muka sejelek itu dan otak kosong kayak gitu dari dulu gue akan ngunci diri di rumah atau gue jalan-jalan pake topeng biar mata orang gak keganggu ahhahaha..” ejeknya. “Kasian juga dia ya, tapi jangan bunuh dirilah, nyusahin orang, kayak dia aja yang paling menderita di dunia ini.” timpal temannya. “Udahlah bagus dia mati, daripada dia udah jelek, item, idup lagi? hahaahaha..” ejeknya lalu tawa membahana di seluruh ruangan. “Hati-hati lo ntar ada hantunya, dendam loh..” ejek mereka lagi. “Hiiii idup aja udah jelek, kalo jadi hantu kayak apa ya?, hahhaha.” Sekali lagi tawa membahana di seluruh ruangan.

Pablo memang benci Elena setengah mati. Menurutnya wanita itu kalau tidak cantik tidak ada gunanya. Apalagi Elena, tidak ada bagus-bagusnya. Pablo eneg sekali padanya. Sudah bodoh, gendut, jerawatan, jelek, hitam, suaranya jelek, gagap, pemurung, kampungan, menganggu pemandangan saja. “Wanita itu akan diciptakan tuhan untuk memperindah dunia, ini pasti produk gagal total” pikirnya. “Kasihan sekali ibunya, pasti anaknya genderewo tuh aslinya.”Kalau suasana hatinya sedang kesal, kemuakannya pada Elena bertambah, ingin sekali ia membenamkan kepalanya ke tanah dan menginjaknya. Tapi hal itu tidak ia lakukan, paling ia hanya mengolok-ngoloknya atau membentaknya setiap ia bertemu di jalan atau Elena maju ke kelas. Jadi untuk apa ia merasa bersalah?
Hidup memang terlalu mudah untuk Pablo untuk melakukan apa yang ia mau. Pablo adalah ketua basket, selalu mendapat rangking di kelas, idola para gadis, pandai bergaul, pandai main gitar, aktif di OSIS dan anak orang kaya. Namun di balik kemegahan hidupnya, Pablo masih ambisius mengejar apa yang ia mau, ia akan sangat marah kalau kalah main basket, nilainya turun atau ditolak cewek. Ia selalu memastikan untuk mendapatkan apa yang ia mau. Sejak kematian Elena, waktu latihan basketnya terganggu, wartawan dan polisi mencecarnya dan teman-temannya dengan berbagai macam pertanyaan. Hal itu sangat menganggunya, ia bersumpah serapah dan memaki Elena sepanjang waktu. “Jangan begitu ah, bagaimanapun dia sudah meninggal,” ujar temannya. “Emang gue pikirin! gara-gara buntelan busuk itu, kita jadi dikejar-kejar kayak kriminal!” ujar Pablo marah-marah.

Sepulang ke rumah, Pablo menerima paket tanpa alamat. Karena penasaran, dibukanya paket itu. Ternyata isinya sebuah botol dengan simbol wanita berambut ular dan memegang pedang seperti simbol dewi yunani atau tokoh anime. Di botol itu terukir tulisan, “Bukalah aku agar kau tahu artinya.” Tanpa pikir panjang, dibukanya botol itu. Keluarlah asap ungu yang pekat dari botol itu tiba-tiba, memenuhi ruanagn dalam sejejap. Pablo merasa pusing, kepalanya berputar, ia seperti merasa dirasuki sesuatu. Otaknya pun jadi berat, seakan-akan pikirannya disedot keluar. Tubuhnya lemas tak berdaya, ia pingsan. Paginya, terbangun oleh suara jam, Pablo pergi ke kamar mandi dan berkaca dan alangkah terkejutnya ia. “Ini pasti mimpi, tidak mungkin! ini pasti mimpi!” jeritnya histeris. Dipejam-pejamkan matanya, ditampar-tampar pipinya, ia meraung-raung menangis karena frustasi. Wajah Pablo jadi jelek, jerawatan dan tubuhnya jadi gemuk. Orangtuanya segera membawanya ke dokter, kata dokter Pablo salah minum obat yang berbahaya. Dampaknya pikirannya jadi terganggu, tubuhnya pun jadi lemah, tidak bisa lagi main basket. Pablo merasa kutukan Elena telah menimpa dirinya.

Dengan cepat mimpi buruk Pablo jadi kenyataan. Ia kini tak punya teman lagi, ia tak punya lagi hal yang bisa dibanggakan atau gadis yang mengejar-ngejarnya. Ia juga selalu diolok-olok dan diperlakukan kasar oleh orang di sekitarnya. Satu per satu makian yang ia tujukan ke Elena beralih ke dirinya. Ia tak tahan lagi, ia menangis sepanjang malam. Belum dua minggu ia menderita seperti itu, namun kesabarannya sudah terkuras habis, ia membakar hidup-hidup semua mantan teman-temannya di klub basket, teman-teman yang selalu menemaninya tertawa mengejek Elena. Setelah itu, ia menabrakkan dirinya ke kereta sambil mengenggam pesan kematian seperti ini:
“Dunia telah memperlihatkan kekejamannya padaku. Suatu hari juga kalian akan kena balasannya. Semoga kalian semua mendapat karma yang pedih.”
Kepala sekolah geleng-geleng kepala membaca berita di koran. Sudah dua kali, sekolahnya mengalami insiden semacam ini, dia tahu pasti akan segera dipensiun dinikan. “Sepertinya sekolah kita kena kutuk, tolong dibuat acara tahlilan saja.” Itulah pesan terakhirnya. Berita tentang sekolah itupun menyebar ke seluruh antero negeri. Semua ahli berbicara di TV, dari psikolog anak, artis sampai politikus semua ikut berkomentar. Dari 27 stasiun swasta, yang dibahas hanya itu-itu saja. Sampai akhirnya setelah sebulan, masyarakat mulai jenuh, mereka lebih tertarik membahas kasus korupsi atau skandal seks pejabat. Hanya satu dua kali, tim pencari hantu datang untuk beraksi namun setelah itu tidak ada lagi yang mengungkit sekolah itu. Jejak kedua insiden di sekolah itu pun hilang tanpa bekas, seakan tak pernah ada. Mudah-mudahan mereka masih ingat kalau karma itu ada.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s