Hablum Minal A’lam – Islam dan Kelestarian Lingkungan Hidup

Oleh: Nany Ariany

Tahun 2015 merupakan tahun yang kelam buat Indonesia, kemarau yang berkepanjangan dan kebakaran hutan dimana-mana dan pada awal tahun ini di tahun 2016 justru hal kontras yang terjadi, banjir melanda dimana-mana.

Mari kita bermuhasabah dengan firman Allah dalam ayat berikut:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-rum ayat 41)

Berkaca dari musibah-musibah bencana alam yang menimpa negara ini, di musim kemarau, kekeringan dan kebakaran hutan dimana-mana, di musim hujan, banjir melanda. Kita tidak bisa menampik bahwa kita sebagai manusialah yang paling bertanggung jawab atas kerusakan ini. Seiring dengan meningkatnya kapitalisme kita melupakan keseimbangan lingkungan.

Hutan-hutan dibabat untuk perkebunan dan pertambangan, lalu dibiarkan gundul begitu saja tanpa ditanami kembali, akibatnya tanah tidak menjadi tandus, gersang, tidak dapat menyerap air saat hujan. Tidak adanya tumbuhan sebagai sumber lapisan ozon, membuat udara menjadi panas.

Hewan-hewan hutan pun kehilangan habitatnya, bahkan orang utan dan gajah malah dibantai dengan keji karena dianggap hama.

Yang lebih parah lagi, demi jalan pintas, hutan-hutan dibakar begitu saja. Asapnya menganggu sampai ke luar negeri, menzalimi penduduk sekitar bahkan banyak yang meninggal karena gangguan pernafasan.
Ketika terjadi chaos seperti ini, barulah manusia menyadari betapa parah akibat dari kesalahannya, seperti yang difirmankan Allah:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)

Allah memang menyuruh kita untuk mencari rezeki seluas-luasnya di muka bumi namun kita jangan sampai meninggalkan amanah sebagai khalifah di bumi ini. Jangan sampai membuat kerusakan yang akhirnya malah memudharatkan kita sendiri. Hanya demi keuntungan ekonomi yang sedikit, kita lalai akan hak-hak tumbuhan dan hewan yang diamanatkan Allah pada kita. Padahal Allah telah melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS Al-Qashash : 77)

Hutan memang anugrah tak ternilai buat mahluk hidup di bumi ini. Manfaatnya sangat berarti untuk kehidupan planet ini. Sebagai sumber air bersih, oksigen, nutrisi, habitat dan keseimbangan ekosistem. Kita yang di Indonesia sebenarnya sangat beruntung dianugrahi hutan hujan tropis yang rimbun. Bayangkan saudara-saudara yang tinggal di gurun dan padang pasir. Betapa sulitnya manusia dan juga hewan mencari air dan sumber pangan. Karena itulah islam sangat menghargai penghijauan. Bahkan menanam pohon adalah sedekah jariyah yang sangat berarti di mata Allah.
Hadist Dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu dia bercerita bahwa Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Imam Muslim )
Di hadist lain juga disebutkan:
Tidaklah seorang Muslim yg menanam sebatang pohon atau tanaman, lalu tanaman tersebut dimakan oleh binatang buas, burung atau sesuatu yg lain, kecuali hal itu bernilai sedekah baginya. [HR. Muslim No.2902].

Maka aneh sekali perilaku kita, pohon sebagai sumber kehidupan dan sumber sedekah jariyah bukannya kita jaga malah kita merusaknya.

Keagungan ajaran Islam juga mengajarkan kita untuk menyayangi binatang. Bahkan menyayangi binatang adalah jalan untuk memperoleh pahala, rahmat dan kasih sayang Allahurrahman.
“Walau hanya) seekor kambing, (tetapi) jika kamu menyayanginya maka Allah akan menyayangimu.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari no 373)

Dalam hadist lain disebutkan:
“Konon ada seorang laki-laki yang melintasi jalan. Tiba-tiba ia merasa sangat haus, lalu menemukan sebuah sumur. Ia menuruninya untuk (mengambil air) minum. Selesai minum, ia keluar. Tatkala ia telah keluar ia menjumpai seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya sambil mencium tanah karena kehausan. Orang itu bergumam dalam hati: “Kasihan, anjing ini benar-benar kehausan, seperti yang baru saja menimpadiriku.” Kemudian ia kembali menuruni sumur itu dan mengisi penuh sepatunya dengan air. Ia gigit sepatu itu hingga sampai lagi di tempat anjing berada. Lalu ia meminumkannya kepada anjing itu. Allah SWT mengucapkan terima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kami akan memperoleh pahala karena menolong binatang?” Beliau menjawab: “Setiap binatang yang mempunyai jantung basah (hidup) akan mendatangkan pahala.” (Hadits Imam Malik di dalam Al-Muwaththa’ (hal 929-930). Imam Bukhari juga meirwayatkan hadits itu darinya di dalam kitab Shahih-nya (2/77-78,103, 4/117 cet. Eropa)

Hewan adalah ladang amal kita dan pahala kita namun lihatlah fenomena yang ada saat ini. Manusia merusak hutan sebagai habitat mereka lalu ketika memasuki tempat tinggal manusia karena habitatnya rusak, manusia malah membantainya.

Ajaran Islam sangat memuliakan hewan dan tumbuhan bahkan pada saat perang ada larangan untuk menenbang pohon dan membunuh hewan kecuali untuk disembelih.
Dari Yahya bin Sa’id, sesungguhnya Abu Bakar Ash-Shiddiq RA pernah mengutus tentara ke Syam, lalu beliau keluar sambil berjalan kaki bersama Yazid bin Abu Sufyan, sedang Yazid ketika itu adalah kepala seperempat dari (pasukan-pasukan) yang dibagi empat itu, Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu dengan sepuluh hal,   1. Jangan membunuh perempuan, 2. Jangan membunuh anak-anak, 3. Jangan membunuh orang tua yang sudah tak berdaya, 4. Jangan menebang pohon yang sedang berbuah, 5. Jangan merobohkan bangunan, 6. Jangan menyembelih kambing dan unta kecuali sekedar untuk dimakan, 7. Jangan merusak pohon kurma, 8. Jangan membakar pohon kurma, 9. Jangan berkhianat, 10. Jangan menjadi pengecut”. [HR. Malik dalam Mawaththa’, di dalam Nailul Authar]

Islam juga melarang kita menyakiti binatang. Rasulullah selalu melarang kita menyakiti hewan. Seperti keledai, jangan dibebani terlalu banyak beban. Bahkan saat menyembelih, kita harus menajamkan pisau untuk memudahkah kematian hewan sembelihan kita. Ada pula hadist seorang wanita yang masuk neraka karena menyiksa kucing dan larangan membunuh hewan selain bukan untuk memakan/memanfaatkannya.
“…Barang siapa yang membunuh seekor burung lantas tidak menggunakannya sesuai dengan haknya niscaya Allah akan memintai/menanyakan tentang hal itu (dimintai pertanggung jawabannya) di hari kiamat. Dikatakan bahwa : Wahai Rasulullah yang manakah haknya itu ? rasul bersabda : engkau menyembelihnya, lalu memakannya, dan janganlah engkau memotong kepalanya lantas kau melemparkannya.”(H.R. Al-Nasaiy)
Dalam Shahih Bukhari dari Asma binti Abu Bakar bahwa Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Lalu Neraka mendekat kepadaku sehingga aku berkata, ‘Ya Rabbi, aku bersama mereka?’ Aku melihat seorang wanita. Aku menyangka wanita itu diserang oleh seekor kucing. Aku bertanya, ‘Bagaimana ceritanya?’ Mereka berkata, ‘Dia menahannya sampai mati kelaparan.Dia tidak memberinya makan dan tidak pula membiarkannya mencari makan.” Nafi’ berkata, “Menurutku dia berkata, ‘Mencari makan dari serangga bumi.”

Inilah keagungan ajaran Islam, betapa Islam memuliakan hewan dan tumbuhan yang kadang dianggap remeh oleh manusia terutama jaman kapitalisme ini. Saat barat baru berteriak go green di tahun 90’an, islam sejak abad 1400 tahun yang lalu sudah memuliakan hablum minal alam. Dan islam sudah dari dulu memperingatkan kerusakan alam akan terjadi karena tangan manusia.

Mudah-mudahan dengan teguran Allah melalui musibah-musibah bencana alam menjadi momentum buat umat muslim terutama kita yang hidup di Indonesia untuk memulikan alam kita, sumber kehidupan kita, sumber rezeki kita, sumber amal jariyah kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s