Malcolm X: El-Malik El-Shabazz, Cahaya Bulan terbit di kota Harlem.

Oleh: Nany Ariany
Diringkas dari Malcom X, Sebuah Otobiografi, Sebagaimana Penuturannya kepada Alex Haley.

Nebraska, Harlem, Black Muslim, Makkah. Dari anak seorang pendeta, menjadi kriminal, narapidana, mualaf, petinggi Black Muslim, menjadi Haji lalu syuhada. Perjalanan hidup seorang anak manusia yang tidak duga arahnya.

Malcom kecil lahir dan dibesarkan di Nebraska, negara bagian Amerika Utara yang dikuasai oleh kelompok anti negro Ku Klux Klan yang suka membakar rumah dan membunuh orang kulit hitam. Ayahnya seorang pendeta Baptis Negro yang terkenal pemberani dan lantang mengajarkan perlawanan terhadap kaum kulit putih. Teror sering datang menghampiri keluarga Malcom sampai akhirnya sang ayah tewas ditabrak lari dengan kejam oleh Ku Klux Klan. Sejak itu, Malcolm kecil hidup sengsara sebagai anak yatim dan miskin bersama ibu yang masih berusia 34 tahun dan 7 saudaranya. Sejak kecil, ia dan keluarganya yang negro banyak mengalami diskriminasi di sekolah maupun saat bekerja. Malcom selalu bercita-cita suatu hari kaumnya mendapat kedudukan yang lebih layak.

Ia lalu mencoba peruntungan hidup bersama sahabatnya Shorty di Lansing, Detroit dan New York menjadi penari, pelayan, apa saja untuk bertahan hidup. Di New York, Malcom mulai mengenal kehidupan gelap Harlem, judi, narkoba dan prostitusi. Tanpa sadar Malcom dan Shorty memasuki kehidupan yaang lebih mirip binatang, Sebagai pengedar kokain, mereka lebih banyak teler, memaki dengan kata-kata kotor dan main perempuan. Adiknya Ella tidak percaya bagaimana seorang Malcolm yang ia kenal santun telah menjadi seorang atheist yang tak beradab.

Keberuntungan hidupnya datang pada Malcom sejak tertangkap dan masuk penjara. Di sanalah Malcom mendapat hidayah islam. Di penjara, Malcolm dijuluki setan oleh teman-teman narapidananya karena sikap antipatinya terhadap agama. Ia sering ditantang debat agama oleh narapidana lain. Di sinilah Malcom mulai mempelajari teori-teori filsafat agama.

Tahun 1948, temannya Philbert mengenalkan bahwa ia sudah menemukan agama asli orang negro yaitu Islam. Ajaran Islam yang pertama kali dicoba Malcolm adalah tidak merokok dan tidak makan daging babi. Awal yang sulit tapi itulah pelajaran agama Islam yang pertama kali dan akhirnya terus menginspirasi Malcolm seumur hidupnya, “jika kau mendekat pada Allah satu langkah maka Allah akan mendekat dua langkah padamu”.

Tak lama setelah menjadi mualaf, Malcom bertemu dengan Elijah Muhammad, seorang pendiri organisasi yang menentang kulit putih, Black Muslim. Black Muslim percaya, agama asli orang Afrikaa adalah Islam dan bahwa bangsa kulit putih telah merampas mereka dari agama, kebudayaan, negara dan kekayaannya dengan menjadikan mereka budak tertindas di Amerika selama berabad-abad. Ajarannya agak berbeda dengan ajaran Islam murni dan cita-citanya adalah mendirikan Nation Of Islam di Amerika.

Dengan ketekunannya belajar dan kemampuannya yang cerdas sebagai orator, Malcom menjadi seorang mubaligh Black Muslim yang terkenal. Pidatonya tentang perlawanan “kulit putih yang penuh dosa” menghiasi koran, radio, telivisi ternama di Amerika. Dalam sekejap, Malcolm menjadi public figure yang disegani sekaligus dibenci politikus Amerika. Sejak itu pula, Islam berkembang pesat di New York, dari masjid pertama di kota Harlem, Black Muslim berhasil membangun 100 masjid di 50 negara bagian. Bahkan petinju terkenal, Muhammad Ali juga menjadi aktivis Black Muslim.

Kepercayaan Malcom terhadap Black Muslim menjadi kandas setelah pemimpin yang dicintainya Elijah Muhammad terlibat skandal dengan sekretarisnya. Padahal Mr. Elijahlah yang menjadi guru dan pembimbingnya mendalami Islam selama ini. Mimpi buruk melanda dakwah Black Muslim setelah aib ini menyebar di media massa. Malcom berusaha menyelamatkan organisasi Black Muslim yang mulai tercerai-berai dan tetap setia. Namun karena berselisih paham dengan Mr. Elijah Muhammad atas komentarnya tentang kematian JFK, Malcolm dikeluarkan dari Black Muslim setelah mengabdi 12 tahun. Malcolm hanya bisa ikhlas menerima pemecatannya dan mulai mendirikan dan memimpin masjid baru di New York yang bernama Muslim Mosque, Inc.

Walaupun miskin pendanaan dan ancaman teror dan pembunuhan kini bukan hanya dari kaum kulit putih yang membencinya tapi juga dari anggota Black Muslim yang menganggapnya mengkhianati Mr. Elijah, tapi Malcolm tidak peduli, ia tetap berdakwah karena dia melakukan semuanya untuk Allah.

Setelah menerima saran dari Wallace Muhammad untuk lebih menimba ilmu tentang Islam, Malcolm memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Para Muslim ortodoks yang ia jumpai, menyuruhnya menemui Dr. Mahmood Youssef Sharwabi, seorang budayawan Islam lulusan PhD dari Kairo dan London. Setelah datang ke kantornya, Malcom mendapat surat izin untuk naik haji ke Mekkah, Malcolm juga mendapat buku “The Eternal Message of Muhammad” karya Abdurrahman Azzam. Tanpa uang sepeser pun, ia meminjam kakanya Ella dan pergi berangkat haji.

Dari Kairo ke Mekkah, Malcom disambut keramahtamahan para rombongan haji. Malcolm takjub melihat ketika semua orang berpakaian ihram di airport berseru ” Labbaika! Labbaika! Pada saat itu semua kedudukan sama, apakah ia seorang raja atau petani. Di pesawat terbang, Malcom bersyukur bisa bersama-sama dengan kulit putih, hitam, kuning, coklat bahkan ada yang kemerahan karena satu sama lain menganggap yang lain sebagai saudara. Kemuliaan Allah yang membukakan mata hati kami hingga kami bisa saling menghargai.

Sepanjang perjalanannya berhaji, Malcom sering disangka sebagai sahabatnya yang terkenal, Muhammad Ali. Dia juga malu sebagai mubaligh Amerika dan jadi pusat perhatian jamaah, tapi tidak bisa sholat dengan benar. Dalam ajaran Elijah Muhammad, tidak diajarkan berdoa dalam bahasa Arab, itu membuat Malcolm sukar sholat berjamaah, dengan kikuk ia belajar pelan-pelan dari para jamaah.

Malcolm takjub dengan seorang kulit putih yang ia temui di hotel yang juga sedang berhaji. Akhlaknya yang sholeh dan semangat keagamaannya yang tinggi telah meghancurkan sikapnya yang anti kulit putih. Jalanan yang dipenuhi jamaah haji daari seluruh dunia, doa dan pujian kepada Allah menggema dimana-mana. Di tengah kerumunan orang asing, tanpa sanak keluarga, Malcolm merasa aman dan terlindungi, ia pun tak berhenti berdoa dan memanjatkan syukur pada Allah atas rahmatnya dan terima kasih atas istri dan anak-anaknya yang banyak berkorban untuknya.

Sekembalinya ke New York, Malcolm langsung menyebarkan kisahnya sepanjang ibadah haji dan pemahamannya yang baru tentang rasialisme di Amerika. Amerika perlu memahami Islam karena ajaran inilah yang menghapus rasialisme. Selama 11 hari, hidup bersama sesama muslim menerima ketulusan yang sama dari jamaah yang berambut pirang dan bermata biru sama seprti ketulusan dari saudara dari Nigeria, Sudan dan Ghana. Malcolm menyerukan anggota Black Muslim yang anti kulit putih untuk kembali ke ajaran Islam murni.

Sejak itu, ajaran Malcolm yang baru mendapat banyak perhatian. Ia bahkan diundang oleh Raja Faisal dan diberi gelar El-Hajj Malik El-Shabazz. Ia diundang ke Lebanon, Ghana, Nigeria, Liberia, Senegal untuk berceramah. Bahkan di Afrika Selatan, ia menjadi bersama Mandela mengorbankan semangat anti apharteid. CIA membuntutinya sepanjang waktu, Malcolm menjadi musuh besar bagi mereka. Kebencian pun makin besar dari jemaah Black Muslim, Malcolm dianggap pengkhianat besar ajaran Elijah Muhammad yang anti kulit putih.

Februari 1965, Malcom mendapat teror bom molotov di rumahnya membuat istrinya yang sedang hamil dan anak-anaknya ketakutan. Lalu pada tanggal 21 Februari di Audoboon Ballroom saat ingin mengadakan rekonsiliasi tokoh kulit hitam lainnya, pada saat berceramah di mimbar, Malcolm ditembak 16 peluru. Ironis karena Malcolm ditembak mati oleh sesama aktivis yang menentang diskriminasi terhadap kaum kulit hitam. Dalam sekejap berita kematian Malcom menjadi headline dan simpati seluruh dunia.

Saat itu Betty, sang istri yang dirundung duka dan kecemasan akan keselamatan keluarganya tidak punya pilihan lain untuk memakamkan suaminya dengan pemakaman ala barat di rumah pemakaman Harlem. Alhamdulillah, seorang muslim Sudan yang bertemu dengan almarhum di Makkah, mencegah proses pemakaman itu dan mengurus jenazahnya sesuai ajaran Islam. Iring-iringan jenazah bisa mencapai 18 mil, mulai dari Manhattan sampai sepanjang New York Thruway dan kemudian belok ke arah kuburan Ferncliff di Ardsley, New York. Seorang tokoh mubaligh besar telah berpulang ke rahmatullah, walau tak sempurna sebagai seorang muslim namun banyak saudara dan kerabat muslim seluruh dunia yang mengakuinya sebagai syuhada. Semoga Allah mengampuni dan merahmati beliau. Aaaamiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s